askolani

Askolani Nasution. Lulus IKIP Padang, 1993. Menulis cerpen di Majalah “Anita Cemerlang”, Majalah “Tiara”, dll. Sejak tahun 1987. Jua...

Selengkapnya
BOVEN DIGUL (Pemenang III Lomba Menulis Cerpen Depdiknas 2006)

BOVEN DIGUL (Pemenang III Lomba Menulis Cerpen Depdiknas 2006)

Rumah Sakit Onder Afdeling Boven Digul[1], Mei 1936. Aku duduk di dipan tepi jendela. Di antara daun buah seri, tampak Sungai Digul berbelok-belok. Warnanya merah tua, juga keruh. Seperti misteri, dalam 24 jam dapat terjadi perbedaan tinggi air sampai 9 meter. Sungai yang menyimpan banyak tragedi, juga beberapa bentuk mimpi dan sangsi.

Seekor belibis melintas. Ia mengitari tepi rawa di sisi kanan rumah sakit, lalu hinggap pada dahan yang tak berdaun. Matahari tergelincir di barat, nyaris tenggelam. Merah kuning. Ada sesuatu yang tiba-tiba bergetar di hati ketika angin menepis jendela. Kancing baju kurapatkan.

Masih seperti tadi, Suster Anne tegak di sebelahku. Tatapannya jauh, seperti menyimpan sangsi yang dalam. Ia satu-satunya perawat perempuan di rumah sakit ini. Jauh-jauh dari Holland hanya untuk jadi perawat di hutan belantara Papua. Tentu saja, ketika sama-sama kuliah di Leiden dulu, ia memang ingin sekali ke Hindia Belanda. Tapi di pedalaman Merauke begini, di rawa yang penuh binatang buas dan suku primitif, suatu hal yang pada minggu-minggu pertama sempat menorehkan iba.

“Tanpa kau, aku sudah lama kembali ke Holland,” katanya. Ia menatapku sekilas, lalu merapikan botol obat yang berserakan di meja.

Angin mendesir. Suster Anne merapikan rambutnya yang tergerai. Seekor elang menukik di atas pohon jati. Beberapa daun kuning gugur. Jendela kubuka. Tampak beberapa interniran[2] menimbuni jalan dengan dengan pasir. Aku tatap Chatib. Haru kembali menyergapku. Tadi pagi ia masih mengeluhkan tangannya yang mengelupas karena mengangkut pasir.

Suster Anne menatapku sekilas. Ia tentu tahu apa yang kupikirkan. Aku memang sering mengeluhkan sikap Hoofd van Plaatselijk Bestuur[3] yang kukira sangat tidak manusiawi terhadap orang-orang interniran. Apalagi di antara mereka ada Hatta, Syahrir, Burhanuddin, Maskun, dan beberapa alumni Leiden lain.

“Ini bukan tanpa akhir,” tukas Suster Anne menyabarkanku. Ia memang sangat percaya dengan interpelasi Ir. Cramer di parlemen Belanda. Katanya Cramer meminta peninjauan kembali keputusan pengasingan terhadap orang-orang interniran ini.[4] Dan ketika aku memperlihatkan keraguanku, ia lalu menambahkan, “Aku tahu komisi Cramer tidak terlalu kuat. Tapi aku mengenal betul sikapnya. Ia tidak akan berhenti sebelum keinginannya tercapai. Ia lelaki yang kuat, Def. Percayalah.”

“Ya. Dan karena itu kau menyodorkan Hany untuknya kan?” Aku agak ketus. Suster Anne lalu duduk di sebelahku. Napasnya tertahan.

“Dengar, Def,” katanya. “Kau tahu, Hany yang tergila-gila padanya.”

“Hany tergila-gila dengan semua lelaki, Anne. Kau yang bilang ia tipe yang gampang terpesona.”

“Tidak semua, Def. Tidak semua. Ia malah merasa aneh ketika aku menyukaimu. Kau tahu? Katanya kau introvert yang agresif terhadap makna. Kalau lukisan, kau katanya prototipe Michaelangelo.” Anne lalu berbicara tentang berbagai konsep keindahan zaman romantik. Selalu saja ia bersemangat setiap kali berbicara tentang estetika.

Napas kutarik dalam-dalam, serasa memasukkan Boven Digul ke dalam paru-paru. Ada Pos Assike[5], kantor Pamong Praja, detasemen Veldpolitie[6], rumah wedana, perumahan pegawai sipil, tangsi, gereja, gudang perbekalan, gubuk-gubuk perkampungan interniran yang beratap daun rumbia dan pedagang Cina yang saban sore menjual dagangan di tepi Sungai Wet, anak Sungai Digul.

“Def.”

“Ya.”

Angin masih juga melintas. Daun Dadap tampak memutih di kaki bukit.

“Aku mengenalmu sejak di Leiden,” ungkapnya.

“Tentu saja. Aku juga mengenal Vollen, bekas suamimu.”

“Apa aku tak cukup menarik, Def?”

“Tentu saja. Sudah beberapa kali kau mengatakan itu.”

“Coba kalau aku lahir di sini, Def.”

“Kau tak cocok untuk suku Mappi, Anne.”

“Maksudku, aku tentu lebih banyak punya kesempatan untuk mengenalmu.”

“Kau sudah lama mengenalku, kan? Aku ekstrovert yang haus makna.”

“Aku tak bilang ‘haus’, Def. Agresif. Aku bilang ‘agresif’, maksudku Hany yang bilang.”

Belibis masih terbang beriringan. Juga beberapa bangau putih. Senja seperti ini mereka selalu berkerumun di atas rawa. Dan Anne suka memandanginya berjam-jam dari jendela rumah sakit. Katanya, nuansa keindahan seperti ini memberi pengalaman estetis yang belum pernah ditemukannya di Eropah.

Beberapa interniran tampak mencari cacing untuk umpan kail di sungai Digul. Cacing dan udang digunakan untuk menangkap ikan kecil. Ikan besar ditangkap dengan umpan ikan kecil. Beberapa waktu lalu mereka sempat menangkap ikan cucut pedang sepanjang 10 meter. Biasanya hasil tangkapan sebesar itu dimakan bersama keluarga interniran yang lain.

“Def.”

“Ya.”

“Mau aku buatkan kopi?” Suster Anne menjamah lenganku.

“Terima kasih, Anne. Kau yang bilang tak terlalu baik minum kopi sore-sore.”

Anne tertawa. Manis. Ia terlalu baik untuk ukuran gadis Holland. Dan ketika aku menyampaikan itu, ia mengatakan bahwa ketulusan tidak mengenal batas geografis dan sosial.

“Karena itu kau menjadi perawat di sini?”

“Kau tahu, aku sempat keluar dari biara. Aku mungkin ditakdirkan untuk menjadi bagian dari hidupmu,” katanya. “Aku ke sini karena Hany bilang kau di rumah sakit ini.”

Haru menyergapku. Sayuti, interniran di Kampung D, pernah mengatakan bahwa cinta dapat ditumbuhkan di mana saja. Bukan keputusan yang buruk untuk menikahi orang sebaik Suster Anne. Katanya, menikahlah dengan orang yang mencintaimu, meskipun tidak kau cintai. Sebab, jauh lebih mudah mengubah diri sendiri dari pada mengubah orang lain. Dalam diri setiap pasangan, katanya, banyak hal-hal dapat menumbuhkan daya tarik kalau kita rendah hati menerimanya. Dan Anne juga beberapa kali mengatakan bahwa banyak hal yang dapat diubah, jika itu dapat membuatnya tampak lebih menarik.

“Anne.”

“Ya.”

“Kau kawanku yang paling baik.”

“Sudah sering kau mengatakan itu, Def.”

“Maaf, aku membosankan.”

“Aku juga membosankan, kan?”

“Kalau saja semua terjadi seperti yang kita inginkan.”

“Kalau saja, Def.”

Bunyi jangkrik terdengar dari sisi rumah sakit. Sepi perlahan-lahan mengendap di lara. Ada rasa asing dan terkucil, perasaan yang berkali-kali datang. Tak juga membuat betah.

Suster Anne tergugu di sebelahku. Matanya redup. Ekspresionis. Mata yang memberi ilham bagi obsesi dan sangsi yang tak bermuara. Seperti Kali Wet di sisi sungai Digul. Banyak menyimpan kenangan pada harapan yang kandas, saksi bagi matinya beberapa interniran, entah akan dicatat entah tidak. Tidak semua yang terjadi mendapat tempat.

* * *

Toha masih terbaring di dipan. Tanpa kasur. Suster Anne mengatakan ia terjangkit zwart waterkoorts[7]. Tampak jauh lebih kurus, dahinya lebar. Dua tahun di kamp interniran ini tidak memupus rindunya pulang. Tentu saja. Meskipun diberi upah kerja f 40,- per bulan, beras 20 kg, ikan asin 2 kg, dan gula 1 kg; tidak akan menutup rindunya terhadap kampung. Ia berkali-kali mimpi makan kue jagung. Ia juga ingin menonton Rabab[8], tempat ia dan istrinya telah dipertemukan. Dan setiap kali Toha dirawat seperti ini, setiap kali Suster Anne menyuntikkan cairan kina, setiap kali juga aku mengatakan bahwa harapan harus selalu dibesarkan. Dan jika Toha kemudian menyanyikan lagu daerahnya, Batu Tagak, di antara nafasnya yang terengah, aku juga bakal teringat kampungku di tepi sungai berbatu itu. Aku melihat hari panen dan para gadis memasak kolak pisang. Dan, di antara ladang gandum, anak-anak berlari menangkap belalang. Kelak, jika saja takdir terbenahi, ingin kutunjukkan pada Anne bahwa kesederhanaan pun dapat memberi pengalaman estetis kalau kita dapat menerimanya dengan arif.

Suparno datang. Ia menanyakan kepastian pertandingan sepakbola KSVD[9] untuk pelepasan Sayuti Melik yang akan segera bebas. Hatta dan Syahrir juga akan main. Katanya ia mencemaskan kemampuan kami untuk dapat mengimbangi kesebelasan terkuat di Boven Digul ini. Dan dengan gayanya yang khas, sambil melirik Suster Anne, ia mengatakan bahwa jika saja semua Nederland sebaik dia, kita tidak perlu ada di hutan belantara ini. Atau jika saja suku-suku primitif secantik perawat itu, kita tidak akan takut menembus rimba.

Aku tergugu juga mendengarnya. Kuingat Dahlan dan Sukrawinata yang beberapa waktu lalu melarikan diri ke hilir Sungai Digul. Mereka kabarnya dibunuh suku primitif ketika sampai di wilayah Suku Mapia. Ada juga yang sempat sampai ke Flyriver, Thursday Island, tapi oleh polisi Australia dikembalikan lagi ke Hindia Belanda. Sebagian meninggal di perjalanan, terperangkap di rawa, kelaparan, atau dimakan buaya. Kisah-kisah tragis para pelarian itu menjadi perbincangan di kelompok werkwilligerns[10], alasan yang mendorong mereka untuk menikmati takdir sebagai interniran.

Suparno mungkin menebak apa yang kupikirkan. Memang, bukan waktunya untuk saling melemahkan semangat. Karena itu, tanpa bergumam, ia begitu saja keluar ke arah timur, menyusuri tepi sungai.

Awan menebal. Burung Pipit berlarian masuk hutan. Sebagian hinggap di daun nipah di tepi Sungai Digul. Akan hujan sebentar lagi. Tiap hari selalu turun hujan, menghanyutkan humus tanah. Para interniran mengeluhkan tanaman sayur mereka yang tidak cukup baik tumbuhnya. Juga tanaman di sekitar rumah sakit. Anne sangat telaten merawatnya. Katanya, kecintaan terhadap tanah harus ditumbuhkan. Karena itu ia menyesalkan poliklinik mahasiswa di Universitas Leiden yang banyak dijejali pot bunga. Menurutnya, tanah adalah media terbaik bagi tumbuhnya bunga. Dan aku lalu menimpali bahwa justru karena tanahlah mereka datang ke Hindia Belanda, bukan untuk pot bunga.

Suster Anne lagi. Pagi-pagi ia sudah muncul di pintu rumah sakit. Seperti biasa, ia memakai blazer putih dan sal melilit di lehernya. Begitu meletakkan tas, ia langsung memeriksa pasien dan meminumkan obat. Ia juga merujuk beberapa pasien malaria yang sudah dapat pulang. Dan sambil menyalami mereka, ia menekankan pentingnya menjaga takaran obat. Sebab, konsumsi kina yang berlebihan dapat menyebabkan kantuk dan invalid pendengaran, suatu hal yang sering dikeluhkan sebagian besar keluarga interniran.

Menjelang tengah hari, aku mengajak Suster Anne menyambut rombongan interniran baru yang katanya berasal dari Banten, Sumatera Barat, dan Priangan. Mereka diangkut dengan kapal Konikklijik Paketvaart Maatschappij Rhumpius. Masing-masing interniran dirantai berlima dan ditempatkan di palka kapal. Salim bercerita bahwa untuk buang hajat pun mereka tetap dirantai. Sampai di muara Sungai Digul, mereka kemudian diangkut dengan kapal kecil sampai ke Tanah Merah, pusat perkampungan interniran yang berada di kaki bukit.

Anne tampak sangat tergugu. Aku membiarkannya duduk di tepi Jembatan Digul. Sambil menopang dagu, ia beberapa kali mencetuskan kegusarannya atas perlakuan yang ditimpakan kepada para interniran ini. Ia mengungkapkan beberapa teori kebangsaan dan kemanusiaan. Auguste Comte juga disebutnya. Dan aku berkali-kali juga mengatakan bahwa kami bukan pihak yang memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan. Terakhir Anne mengungkapkan bahwa ia ingin meninggalkan semua kebusukan di Boven Digul ini.

Aku tentu saja kaget. Apalagi ketika ia mengajakku menyusul ke Holland jika hukumanku berakhir. Untuk itu ia merencanakan untuk membeberkan semuanya kepada wakil-wakil Sociall Democratische Arbeiders Partij[11] di parlemen Belanda.

Kukatakan bahwa aku menghargai usahanya. Juga kepercayaannya bahwa aku dapat menjadi pilihan yang baik bagi kehidupannya. Tapi menghabiskan hari tua di Holland, sungguh belum pernah menjadi pertimbanganku. Karena itu juga dulu aku menolak tawaran bekerja di Amsterdam.

“Aku bisa paham,” katanya dingin. Melihatnya seperti itu, mengingatkanku pada lukisan perempuan dingin di dinding rumah sakit. Matanya mengesankan kesia-siaan, tak berpengharapan.

Tak dapat melihatnya sedih seperti itu, tangannya kutarik, kubimbing bangkit. Dan sambil berjalan menyusuri tepi Sungai Digul, aku menceritakan bagaimana kadang-kadang kita merasa sangat takut terhadap perasaan kita sendiri. Suatu hal yang seharusnya tak perlu terjadi jika kita bisa melihat persoalan-persoalan di sekitar kita secara sederhana.

Tapi apa katanya? “Laki-laki mungkin bisa melihat cinta secara sederhana, tetapi perempuan tak dapat bermain-main dengan hatinya.” Ia lalu mencontohkan beberapa karya klasik Sopocles, Shakespeare, dan nama-nama lain yang tidak sepenuhnya kukenali. Karena itu aku tetap bergeming sampai ia mengatakan, “Meskipun aku tak cukup beruntung untuk selamanya denganmu, aku merasa belum cukup alasan yang rasional untuk meninggalkanmu di interniran ini.”

Aku menatapnya sekilas, lalu pada bunga pakis yang tumbuh di pinggiran sungai. Beberapa mawar liar juga tampak. Ketika melewatinya, Anne memetik setangkai, dan aku memunguti daunnya yang menguning, lalu melemparnya ke tengah Sungai Digul. Anne mamandanginya hanyut di air. Ia memang tipe yang gampang tertarik dengan hal-hal kecil. Dan ketika itu kusampaikan pada Anne, ia tertawa.

“Karena itulah aku menyukaimu,” cetusnya. “Kau lebih menarik dari sisi yang detail. Jika lukisan, kau sketsa Rembrandt.”

Lukisan lagi.

“Kau tahu aku tak paham lukisan.”

“Vollen, suamiku, bekas suamiku itu, dosen filsafat estetika. Tapi kau lihat, kan? Aku malah meninggalkannya.”

“Nanti pun kau bisa meninggalkanku.”

“Aku tak yakin.”

“Tapi aku yakin.”

“Tidak akan.”

“Mengapa tidak?”

“Karena aku memilihmu.”

“Vollen juga kau pilih.”

“Aku lebih memilihmu.”

“Jangan memilih.”

Sepi melintas. Tampak Hanafiah naik perahu di Sungai Digul, memasang jaring penangkap ikan. Perahu yang menelikung di sungai selebar 50 meter itu menciptakan nuansa keindahan. Juga kegetiran. Kita tampak kecil di hadapan alam.

“Def.”

“Ya.”

“Waktu kecil kukira semua bidadari perempuan. Kau tahu, karena semua lukisan bidadari di rumah Paman Monsjou perempuan.”

“Kau sudah pernah mengatakan itu, Anne.”

“Aku ingin mengatakannya lagi. Katakan aku membosankan. Dan kau tahu, Def?”

“Tidak.”

“Ketika aku mengenalmu, aku sangat yakin bidadari juga boleh laki-laki. Apa salahnya, yak kan, Def. Kalau saja lukisanku sebagus Paolo, aku ingin melukis bidadari laki-laki. Coba bayangkan, Def. Ada beberapa gadis berlarian di tengah padang gersang, lalu bidadari itu membagikan mereka mawar. Coba, Def. Bagaimana menurutmu?”

“Kau tahu, aku tak paham lukisan.”

“Bukan lukisan, Def. Contoh.”

“Apa bedanya.”

“Tentu saja beda, karena aku belum melukisnya.”

“Aku tak paham, Anne.”

“Coba saja pendapatmu.”

“Kukira itu mirip puisi. Ada sebuah bunga di sebuah padang rumput yang tidak begitu terpelihara. Ketika seorang gembala akan memetiknya, bunga itu berkata, kutusuk kau agar kau tak lupa padaku.”

Anne melonjak.

“Kau bisa juga menulis puisi, Def,” cetusnya riang. “Ayo, Def, tuliskan untuku sebuah puisi.”

Anne lalu menarikku ke bawah pohon Meranti yang sebagian akarnya masuk ke Sungai Digul. Ia, sambil bersandar di batang, mengutip beberapa puisi Joseph Broadsky. Sesekali ia pun menyanyikan beberapa potong lagu-lagu rakyat Holland. Juga gumaman bahasa-bahasa yang belum pernah kudengar, mungkin beberapa bentuk katarsis. Aku memandangi dan membiarkannya menikmati perasaannya. Dan, seperti biasa, di antara beberapa pola kesunyian, kampung di tepi sungai berbatu itu kembali merenggut anganku. Aku melihat anak-anak mandi telanjang, ibuku yang tua mencuci beras dan belanga tanah liat warisan nenek. Ada bau harum pisang bakar, anak-anak berlarian menunggu bedug buka puasa. Dan di antara deras air, tampak mata bening Maimunah menyimpan kangen, pada tempat mana naluri selalu terpagut.

* * *



[1] Kamp tahanan politik untuk tokoh-tokoh pergerakan, 460 km masuk pedalaman Papua dari pantai Merauke. Perjalanan dilakukan berhari-hari dengan kapal kecil menempuh sungai Digul yang ganas.

[2] Sebutan untuk para tahanan politik yang dituduh mengganggu ketenteraman Hindia Belanda

[3] Kepala pemerintahan di Boven Digul

[4] Komisi ini meminta agar parlemen Belanda membatalkan penerapan pasal 37 Indische Staatsregelin yang memberi hak kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk menangkap tokoh-tokoh pergerakan tanpa melalui sidang pengadilan

[5] Didirikan untuk membasmi suku Pengayuan dan mengawasi perburuan burung Cendrawasih.

[6] Polisi lapangan untuk mengawasi orang-orang interniran

[7] Penyakit kencing hitam

[8] Kesenian rakyat Minangkabau

[9] Singkatan dari Kunst, Sport en Voetbal Vereeniging Digoel, perkumpulan seni, olahraga, dan sepakbola untuk para interniran di Digul..

[10] Kelompok interniran yang memilih bekerja sama dengan penguasa Boven Digul.

[11] Partai Sosial Demokratis Belanda yang banyak mempersoalkan kebijakan Gubenur Jenderal Hindia Belanda.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Subhanallah, sangat memikat. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

15 May
Balas

kereeen...., salam literasi ya pak...

19 May
Balas

sama-sama bu. Maaf, baru buka

23 May

terima kasih komentarnya. semoga hidup kita diberkahi. selamat menjalani ibadah puasa.

16 May
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali